May 27, 2011
Apr 29, 2011
tokecang

Apr 27, 2011
Bieber Fever!
I will fight till forever! (make it right)
Whenever you knock me down,

jadi orang terkenal
Apr 22, 2011
Apr 18, 2011
mimpi dan film
Jan 28, 2011
Gadis-gadis C72; Kakak Aussy, Kak Nana, Inayah, Reina, Via, Hanum, Glendia, Stela, dan Deviana. Kalian adalah orang-orang tergila dan terheboh yang pernah saya kenal. 3,5 tahun bersama kalian adalah waktu paling menyenangkan yang pernah kita gue lewatin. Momen-momen bareng kalian gak akan pernah bisa dilupain; tuker kado, karoke, ulang tahun, jalan-jalan. Betapa senangnya gue karena kenal kalian; orang-orang yang akan terus menyemarakan hidup gue sampe tua dan keropos nanti.
Apa sih yang terlintas di benak kalian waktu mendengar kata kosan? Mungkin buat kalian yang belum pernah dan nantinya akan merasakan berbagi kamar mandi, dapur, bahkan kamar kalian dengan orang lain, buatlah senyaman mungkin. Kosan buat gue adalah rumah. Bahkan kadang menjadi sulit membedakan kenyamanan dengan rumah yang asli. Kurang lebih dari 3 tahun yang lalu gue memutuskan untuk melanjutkan kuliah di Bandung, dengan segala macam perintilan dan ini itu terhentilah pilihan tepat pada rumah bernomor 72 di Jalan Raya Ciumbuleuit. Tepat dimana angkot warna ijo sering bolak balik. :p
Kosan yang bentuknya mirip rumah kungfu hustle ini sukses jadi saksi bisu para mahasiswa tahun pertama yang kebetulan masuknya bak bedol desa pada tahun 2007. Tahun pertama untuk para mahasiswa baru, apalagi mereka yang datang dari luar kota semuanya serba meraba-raba. Kuliah, nilai, tempat makan, teman2, dan masih banyak hal lainya. Sukses datang dari kota yang berbeda, gue, Inay, Devi, dan Dinda ternyata mengambil jurusan yang sama.
Di rumah ini banyak sekali kenangan haha-hihi sampai huhuhu. (naon) disini, gue menemukan orang bodoh yang merasa suaranya punya gelombang supersonik berkekuatan 2MB *emang flash disk!* yang bisa memusnahkan tikus.
Juragan Cirebon yang memuja primbon dan kartu tarot.
Wanita yang mengklaim di jidatnya sendiri terdapat sumber uranium untuk bahan baku bom nuklir.
Cewek batak-sunda yang suaranya bak kaleng rombeng
Arek suroboyo yang puitis dan seneng joget India
Senior yang sering di bully
dan Senior-senior yang dituakan
Tahun pertama bergulir dengan cepat, lagi-lagi kosan menjadi saksi bisu ketika para mahasiswa tahun ajaran baru masuk dan muncul tradisi penganiyayaan pada hari ulang tahun. Biasanya sulit untuk lama menetap dalam satu kosan, karena berbagai macam jenis kosan dan dengan mudahnya mahasiswa pindah dari kosan 1 ke kosan lainya. Di tahun2 awal keinginan untuk pindah sering kali datang, tapi dengan sendirinya pergi.

Gue sering berfikir, kalo aja ada yang mau menuliskan segala macam yang terjadi di kosan ini, dan menceritakanya dengan baik, pasti akan menjadi buku yang menarik. Tahun kedua mahasiswa jurusan hubungan internasional menjadi mahasiswa yang sangat sibuk, dengan berbagai macam kepanitiaan dan kegiatan pulang ke kosan sering hanya menjadi tempat tidur dan mandi. Selagi di kosan ini pakai air panas jadi bukan masalah untuk mandi pagi2 atau tengah malam. Air panas ini yang gue bilang salah satu keunggulan kosan 72 hahaha
Kosan ini menganut sistem bebas-bertanggung jawab, artinya bebas pulang jam berapa aja asal di gembok. Dulu sebelom rumah ibu kosan monitor komputernya digondol maling, kalau sudah lewat dari jam 11 malam (jam malam) penghuni kosan bisa dengan mudah lompat pager. Lumayan selama setahun-dua tahun melatih skill jadi maling. Latihan maling pun berhenti setelah pagar depan dipasang kawat maling yang tingginya sampai 15 cm. Sirna sudah harapan untuk tidur di kamar sendiri kalau pager sudah digembok, kecuali sudah kongkalikong sama temen yang di dalem. Disini juga kita melatih skill-komunikasi (HALAH)
Pertengahan tahun geng kosan sempat dilanda krisis air, karena pompa kosan konselet. Pada saat itu gue tau betul kapan mesti mandi dan kapan pakai deodoran yang banyak. Hahaha untuk sementara kita harus bergantian mandi di rumah depan. Akhir tahun kedua bergabunglah teman sejawat dan sejurusan yang sukses pindah kesebelah kamar gue. Akhir tahun kedua ini pula kosan sempet dilanda mati lampu karena sekring kosan bebanya terlalu tinggi. Maka seringkali kita hidup dalam kegelapan di beberapa saat.
Sulit untuk melihat kebelakang dan bercerita, karena banyak sekali hal-hal yang pengen gue ceritain, Malah terlalu banyak dan sangking banyaknya akhirnya gue gatau harus mulai dari mana. HAHA hari ini tanggal 28 Januari 2011, seorang rekan sejawat seperjuangan di kosan ini rekan yang masuk bedol desa bersama, melewati berbagai malam begadang polgas sambil koyoan dan tolak-anginan, rekan yang sempat gue salahkan akan kesialan yang menimpa gue, rekan yang statusnya paling sering dibajak namun tetap tidak berdaya untuk membalas dengan setimpal, rekan yang udah seperti sodara buat gue dan yang lainya akhirnya resmi menjadi SIP.
Akhirnya gue sampai di penghujung tahun terakhir menjadi mahasiswa, lucu kalau melihat para mahasiswa tahun pertama dan kedua dengan euphoria mereka. Sedangkan para mahasiswa tahun terakhir sibuk bergelit dengan skripsi dan dilema mau dibawa kemana ilmu ini?
Mungkin dilain kesempatan gue bisa nulis tentang berbagai cerita yang ada di kosan tercinta ini haha karena kurang lebih sekarang gue ngantuk! Kembali kepada quote yang gw kutip notes teman sejawat gue yang sudah jadi SIP itu, memang terlalu banyak momen yang ada disini, dan gue merasa sangat beruntung menjadi salah satu yang bisa mengalaminya.
“You have four years to be irresponsible here. Relax. Work is for people with jobs. You’ll never remember class time, but you’ll remember time you wasted hanging out with your friends. So, stay out late. Go out on a Tuesday with your friends when you have a paper due Wednesday. Spend money you don’t have. Drink ’til sunrise. The work never ends, but college does…”

Dec 16, 2010
Bedtime stories
Budapest, Hungary
It’s been an unremarkable journey. I left Jakarta and all the co
lleges issues behind. This is what i needed at a time, A welcome break. I got to the Soekarno Hatta Airport far too early this morning and lingered comfortably in the of international air terminal. An hour hop to Singapore. But the long journey is up ahead.
On my 14 hours flight, i was sit next to another indonesian. Praising god i could just talk to him while i’m acrophobing. It wasn’t a great flight at all, i was too nervous so i can’t sleep nor reading books. I stretched out my legs and easily hit the front chair. I hate all European Airlines with their narrow hallway and chair spaces. That poor boy, was abuse by me to talk during the cross regions flight.
I growling and stretching my body on the bed, wondering almost 10 hours ago i was checking my flight gate at Frankfurt International Airport, which somehow get me pretty shock of this hundreds of gates in this very big airport. One thing came up to my mind is “missing” my flight. Funny how i always had this insecurity problems even though its secure.
Its the 40th gate on the opposite terminal from my arrival gate. I passed through closed stores and empty hallway with heavy backpack and sleepy eyes to reach the gate.
The gate was still empty, and yes i was 2 hours earlier. I put my backpack and i put myself on the airport couch. I was too tired to do anything except watching people passing me.
Later on, a 20 something women finally sit behind me after asking whether this is a right gate or not, and finally i break the ice. She’s 30s Hungarian whom spent her last 4 years in New York and actually she broke all my dreams about How Cool Big Apple is. She told me how mean the new yorkers and how individually-centric are they, this is also about how is she getting pregnant with a new yorker and the guy wanted a break up. I get that, she’s mad, cause living in those concrete jungle doesn’t seems turn into what she’s dreaming of. Especially the preggos part.
There was random-Asian-check at Ferihegy immigration. Couples of Asian way ahead me was be told to open up their luggages. My new local fella was saving my ass that day, i was saved cause i was travelling with locals. There is paperwork to fill. I attach a passport photo and
put my signature on the dotted line. I hand in my form to the uniformed official whom peers at it. I pass my passport over to him, then watch in some dismay as, mumbling in Hungarian with not even a friendly glance, he hands it back to me. I was passed. The Indonesian couple were waiting outside Ferihegy, i put my baggage to the car while waving and changing email to my local fella.
I was too jacked to sleep after the flight, here i am lying on the bed on the Indonesian couple apartment. I feel my body like a paper jamming, tensions. Hard to explain. I sit on the bed and i can see Duna through windows on 12th floor. It’s just a perfect Sunday eveningbin Budapest.
I stand for some time longer, watching the city from up above, feeling a bit claustrophobic, and agorophobic as the city looks to eats me alive with its oddness and unfamiliarities out beneath the spreading plate-glass vista at my feet. I left a little smudge on the glass, i wrote my name on it while it quickly evaporates as i pull my face back.
I lied down on my bed, my bike trip was slightly play like a slideshow. I rode the bike and drive along by the river, it’s a quite morning. I can feel the wind breeze compromise the sun shine when i pass Szechenyi Chain Bridge. It’s the oldest bridge ever build since 1849. It’s like one of hist
orical left overs which is so old and makes it sophisticated to be photo background. Passing through the Parliamentary Office and City Hall.
I’m fooling around by let this bike moving along in some random blocks. Makes it a round. Round a round without any firm destination. It’s not like i don’t have any places to go,
i just feel like random. My randomness bumped into small open air cafe around Vaci Utca, i parked my bike near the table and i order ice tap water. It’s almost 40 degree that day and i was cycling around under the sun. Nothing feels good than ice water. I was sitting around, ordered ice mint chocolate, watching people come and go.
I feel my eyes grow heavy. Again i lingered on the bed. It’s 2 in the morning after all the evening daydreaming. My eyes have been exposed to long hours of dry weather on the streets, stores, malls and they are finally ready to be rested. My bed is soft. It has four big pillows, which is more than i expected, but I am willing to be creative. I put somewhere bellow my feet, it comforts
my biking tense feet. I realize that despite my reticence to rest, Duna river will still be there in the morning- for better or for worse. I’ll go and stand at the window once again saw the quiet roads and shiny streetlights before i pulled the blanket over myself…

be as good as you can be
days and hours may pass
no rain on us
not this time”




