Apr 22, 2011

Saya duduk menatap folder dengan nama skripsi di depan layar laptop. Mouse digerakan menjauh, menuju google chrome. Membuka sebuah blog yang sudah 2 tahun tidak di upload. Saya berada diantara dengan sejuta kepala yang menjadi penggemarnya, mungkin klise. Saya belum pernah berbicara dan bertukar pikirang secara langsung, tapi seringkali kita merasa begitu menggenal seseorang lewat tulisanya. Saya kagum sekali dengan orang ini.


Sekitar tahun 2001, peranya sebagai seorang anak tukang jamu tidak kalah dengan aktor senior christine hakim. Saya masih duduk di bangku smp, merasa film itu begitu gelap. Tahun berikutnya saya seperti remaja pada saat itu rasanya tersedot dalam dunia percintaan dan persahabatan seperti yang dia perankan. Sedikit perasaan kagum rasanya melihat karyanya. Saya terus mengikuti jejaknya sebagai aktris indonesia, berbagai macam peran kemudian ia mainkan. Namun kekaguman saya hanya sebatas itu saja. Aktor dan aktris adalah pemain peran, dan saya hanya terhanyut dengan peran yang ia mainkan. Namun dia aktris yang hebat.

Di tahun 2008, dia mulai menuangkan tulisanya dalam sebuah blog. Lagi-lagi saya adalah sejuta kepala yang membaca blognya. Saya memutuskan hanya menjadi seorang pembaca dan meninggalkan kolom comment. Rasanya saya begitu memahami orang ini lewat tulisanya. Kecintaanya dengan industri perfilman menjelaskan mengapa ia disebut "aktris yang pilih-pilih film", sayang sekali saya tidak sempat melihat karyanya yang bercerita tentang mahabrata. Tulisan-tulisanya mencerminkan keintelektualanya dan menjelaskan pada akhirnya dia itu sepertihalnya rakyat Indonesia pada umumnya.

Beberapa minggu terakhir, saya kembali melihat koleksi film indonesia di lemari. Saya duduk di depan tv dan melakukan movie marathon seperti biasanya. Rasanya seperti "tak" saya kembali menyadari betapa brilianya seorang individu di depan mata saya ini. Satu kata "flawless". Saya semakin mengerti bahwa membutuhkan dedikasi yang begitu besar untuk menjiwai seseorang karakter dalam suatu film dan dia melakukanya dengan sangat baik.

Saya begitu iri dengan teman seangkatan saya di kampus yang pernah meluangkan waktu liburan denganya. Saya iri kepada teman saya karena waktu yang dia habiskan bersama orang ini. Saya tidak butuh tanda tangan, atau foto bersama. Saya ingin mengobrol, berbincang-bincang, dan bertukar isi kepala. Selama ini selain film-filmnya, blog-nya lah yang memberikan dunia kesempatan untuk melihat isi kepalanya. Kepala aslinya.


Dari tulisanya, saya dapat merasakan mimpinya, kecintaanya, kekagumanya, dan ambisinya. Dari tulisanya saya berbagi mimpi, berbagi ambisi. Darisana muncul perasaan kagum yang begitu besar. Darisana muncul semangat saya untuk bisa seperti dia. Bukan menjadi pemain film, tapi menjadi individu yang berhasil dengan melakukan apa yang ia suka. Berhasil mewujudkan keberhasilan dari passion-nya. Ingin sekali saya bertanya dan berdiskusi akan sejuta pemikiran yang ia tuangkan dalam tulisanya. Ingin sekali saya menjabat tanganya dan berkata, "mbak sudah menggerakan saya". Suatu saat pasti. Harus.




Indeed a huge worship to DPS


0 comments: