Setiap orang pasti mempunyai sumber inspirasi masing-masing, seperti teman, pacar, lagu, orang tua dan sebagainya. Saya melakukan banyak hal yang saya sukai sejak kecil, musik, menggambar, menulis, dan nonton film. Namun itu semua menyebabkan saya tidak mempunyai hobi tetap seperti layaknya anak-anak lainya yang tekun les piano atau menyanyi. Mungkin untuk saya, sekedar bisa membaca not balok dan memainkan lagu-lagu kesukaan saya itu sudah cukup.
Buat saya, buku dan film merupakan sebuah sumber inspirasi dan imajinasi. Sejak kecil saya senang sekali nonton berbagai macam film dan membaca berbagai jenis buku bacaan. Sebagai anak kecil mungkin bukan jamanya untuk nonton MacGyver tapi sejak dulu saya sudah curi-curi nonton serial detektif yang dulu sering diputar di RCTI. Kesukaan menonton film orang dewasa sejak kecil tidak membuat saya membenci film kartun, Power Rangers dan Kamen Rider atau jaman dulu namanya Baja Hitam menyita kehidupan masa kecil saya.
Saya pun baru sadar dan tidak merasa terlambat menyadari betapa saya menyukai film. Saya menyimpan kekaguman yang begitu besar, tidak kepada George Lucas atau Steven Spielberg, tapi kepada Mira Lesmana, Rudi Soejarwo, Nia Dinata dan Riri Riza. Pada saat menulis tulisan ini, saya sedang lari dari tugas akhir saya sebagai mahasiswi Hubungan Internasional. Rasanya ada sedikit perasaan menyesal mengapa saya tidak kuliah di jurusan perfilman atau screenwriting. Beberapa kali saya membuat film-film pendek untuk tugas SMA dan kuliah dan rasanya seperti Hint bagi saya bahwa apakah itu merupakan passion saya selama ini.
Bagi saya, Petualangan Sherina merupakan salah satu kebangkitan dari Industri Film Indonesia dan pertama kalinya saya mengagumi para tokoh perfilman Indonesia. Saat itu saya duduk di kelas 5sd, mungkin saat itu saat pertama kali saya merasa seperti diajak masuk dan merasakan seluruh petualangan sherina dan derby. Kedengaranya mungkin sangat klise dan kacangan, bahwa banyak sekali anak SD pada jaman itu yang kemudian mengeluelukan nama Sherina dan Derby, serta membeli berbagai macam pernak-pernik film tersebut. Lalu beberapa bulan kemudian poster, cd, mug, dan lainya tersebut sudah tertinggal dibawah tempat tidur karena euphoria akan film tersebut lama-lama hilang. Petualangan Sherina seperti menyuarakan imajinasi saya pada saat itu, perasaan menggebu-gebu dan kegembiraan pada saat menonton film itu sampai sekarang masih dapat saya rasakan.
Tahun 2002, tahunya saya duduk di bangku SMP dan tahunya Ada Apa Dengan Cinta. Film dengan setting-an sekolahan menyedot berjuta-juta penonton remaja pada saat itu. Tambah banyak remaja yang membuat buku-geng seperti Cinta, Alya, Maura, Carmen, dan Milly. Baru-baru ini saya kembali menonton "Ada Apa Dengan Cinta?", saya sadar betapa lucu kedengaranya dialog pada film ini, betapa lucunya "buku curhat" yang pada saat itu menjadi acuan hidup para ABG dan gengnya. Peran para aktor dan aktris di film ini sangat menentukan keberhasilan "Ada Apa Dengan Cinta?". Film ini merupakan debut aktris dan aktor papan atas seperti Nicholas Saputra dan Dian Sastrowardoyo. Aktor dan Aktris merupakan elemen penting selain sutradara dan produser dalam pembuatan sebuah film, Dian Sastro dan Nicholas Saputra seperti sebuah simbol kesuksesan "Ada Apa Dengan Cinta?". Satu hal lagi yang cukup fenomenal dari film ini adalah arasemenya, ini adalah karya terbaik Melly Goeslaw dalam membuat arasemen sebuah film. Saya tidak bosan menonton karya Mira Lesmana, Riri Riza, dan Rudi Soejarwo yang satu ini.
Cin(t)a, saya menonton film ini pada saat duduk di bangku kuliah. Mungkin banyak yang melihat film ini sebagai film klise low budget dengan pemain yang tidak terkenal. Namun menurut saya, film ini menyimpan berbagai macam pesan. Tidak hanya mengekspose hubungan perbedaan agama. Rasanya ingin sekali saya menyalami sutradara film ini dan meminta dia terus berkarya. Film ini pada dasarnya bercerita tentang hubungan cinta pemuda keturunan cina dengan seorang perempuan jawa. Tidak hanya mengangkat konflik perbedaan agama, film ini menyampaikan sebuah ikatan kultur di Indonesia yang masih sangat kental dan diskriminasi yang terjadi di Indonesia kepada ras-ras tertentu. Mungkin film ini tidak begitu terkenal karena akhirnya yang tidak "Happy Ending", namun film ini cukup menggambarkan bagaimana perasaan seorang pemuda warga keturunan Cina yang begitu mencintai negrinya dan merasakan bagaimana di Indonesia pada saat itu sulit bagi warga keturunan untuk mendapatkan hak pendidikan dan perlakuan yang sama.
Perempuan Punya Cerita dan Berbagi Suami, film yang menceritakan tentang kehidupan perempuan Indonesia. Karya Nia Dinata dengan sutradara-sutradara berbakat lainya selain film-film menarik dengan cerita unik favorit saya, Janji Joni, Arisan, Biola tak Berdawai, dan Ca Bau Kan.
Terlalu banyak film Indonesia yang sangat menarik dan banyak lagi yang tidak menjadi favorit pasar, akhirnya masyarakat luas pecinta film tidak semuanya dapat menikmati karya tersebut. Betapa banyak elemen yang berperan dalam sebuah film, dan betapa besarnya keinginan saya untuk bisa berperan membuat film yang berkualitas di Indonesia lalu memberikan inspirasi sebagaimana saya telah terinspirasi oleh film-film Indonesia.





1 comments:
Hahaha, benar sekali. Ini film2 perkembangan zaman kita ya.
Post a Comment